Monday , 26 July 2021

Selamat Jalan Wahai Panutan

  • 15 July, 2021  08:29:03 

  • Kesaksian Agus Nurcholis Saleh

    Di suatu pagi, di kampus Universitas Mathla’ul Anwar. Waktu menunjukkan pukul 07:30 WIB. Seorang tua duduk menyendiri di meja, di depan kelas. Hamba memperhatikan dari kejauhan, tak ada seorang pun selain dirinya. Hamba ikut penasaran, sedang apa beliau di sana. Menunggu dan menunggu.

    Sekira lima belas menit kemudian, ia pun keluar dari kelas. Seraya bersalaman, beliau mengatakan, “Kamarana nya… barudak kiwari…” Ternyata beliau sedang menunaikan tugas. Ada jadwal mata kuliah di Fakultas Agama.

    Si mahasiswa harusnya bahagia dan bangga, tapi mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.
    Semua yang kenal beliau pasti tahu. Jika berjanji ketemu di waktu tertentu, maka 30 menit sebelumnya pasti sudah standby di tempat yang dijanjikan.

    Beliau tidak mau membuang waktu untuk sesuatu yang sia-sia. Adapun si mahasiswa, andaikan mereka tahu, hal itu pula yang akhirnya “mengakhiri” tugas beliau di Fakultas Agama.
    Waktu itu laksana pedang. Suatu pernyataan yang se-Mathla’ul Anwar tahu. Seluruh muslim sedunia telah mengetahui.

    Tapi dari pengetahuan itu, banyak manusia yang disabet pedang waktu karena mengalami kemacetan. Banyak manusia yang enggan transfer ilmu menjadi perilaku. Adapun beliau, sekali diucapkan maka akan diikuti dengan kenyataan.

    Oleh karena itu, Fakultas Agama sangat kehilangan. Teladan beliau tidak bisa mewarnai dan menjadi cermin di kehidupan nyata. Kehilangan itu semakin terasa oleh Mathla’ul Anwar saat pukul 19.51 WIB pihak keluarga menyampaikan berita. Allah telah memanggil pulang. Tugas dan rejeki beliau di dunia berakhir pada 5 Dzulhijjah 1442.

    Hamba sangat beruntung pernah mendapatkan kesempatan untuk menerima curahan ilmu dari beliau. Hamba diberi kunci oleh beliau untuk suksesnya tugas kehidupan di dunia. Hal itu pula telah ditegaskan oleh Allah dalam Alquran, “Aku kecualikan orang-orang ikhlas untuk tidak disentuh dan didekati oleh setan.”

    Itulah yang menjadi kunci keberhasilan akselerasi dan penetrasi Mathla’ul Anwar di masa dahulu. Asatidz pada zaman itu adalah para mujahhid. Mereka tidak berpikir apa-apa tentang melakukan sesuatu untuk mendapatkan apa. Insentif atau gaji adalah konsekuensi logis atas ‘amal, tapi hal itu tidak boleh diteriakkan di awalan. Tabu dan “haram”.

    Allah telah berjanji. Siapa menanam, dialah yang akan memetik hasil atas perjuangan. Semua orang boleh mengumumkan. Tapi menyembunyikan adalah sebuah kekhususan. Allah sangat menyukai hamba-Nya yang memiliki rahasia. Allah sangat mencintai manusia yang hanya curhat (bercerita) pada-Nya, tidak pada selain-Nya.

    Baca juga :  Zulkifli Hasan: Indonesia Merdeka berkat Peran Tokoh Islam

    Hari ini, banyak sekali manusia yang berpendidikan tinggi. Tapi ketinggian pendidikan itu hanya pada level administrasi. Adapun secara substansi, keikhlasan menjadi kunci. Jika ilmu telah diperjualbelikan, maka ilmu itu tidak mampu mendudukkan. Jabatan yang diduduki oleh manusia tak beda dengan fatamorgana.

    Almarhum merasa khawatir dan takut, jika keikhlasan itu telah ditanggalkan, maka keimanan telah ditukar dengan was-was, buta, dan keraguan. Ketiganya merupakan siksaan. Andai jalan di depan tidak terlihat, sang sopir menjadi stress dan dipenuhi kemarahan.

    Sedangkan di akhirat, kepedihan dan kepedihan akan saling bergantian.
    Berhati-hatilah dengan pamrih dan pencitraan. Sedikit-sedikit melaporkan.

    Allah pun dibuat “cemburu”, karena laporan itu bukan disampaikan kepada Allah, tapi kepada mereka-mereka yang gemerlapan hidup di dunia fana. Jika tidak ada yang memperhatikan, hasilnya adalah kekecewaan.

    Dunia pendidikan adalah yang dikhawatirkan almarhum, karena inti dari pendidikan adalah ilmu. Madrasah semakin semarak. Bangunannya telah berbeda. Dibantu pula oleh teknologi. Tapi ironi, kenapa pekertinya tidak membumi? Jarang sekali menemukan air mata haru karena akhlak para manusia.

    Sebaliknya, dunia ini gelap gulita.
    “Menjadi guru itu harus ikhlas.” Kalau selalu perhitungan, segera mundur dari guru. Digugu itu segala ucapannya cep-nyes, dan peserta didik langsung beraksi mewujudkan pengetahuannya. Para murid tidak membeda-bedakan sikap dan perilakunya, baik ketika di depan maupun saat di belakang. Everything is genuine.

    Almarhum membuktikan orisinalitas itu saat bertakziah. Beliau bukan petugas atau mengalir sebagai pelaksana upacara. Tapi ketika beliau mengetahui ada tetangga atau sanak saudara yang meninggal dunia, maka tak perlu waktu lama bagi beliau untuk meng’agung’kan (takziah) almarhum, baik secara ucapan, secara perasaan, maupun secara bantuan.

    Takziah adalah tahadduts bi al-nikmat. Ada petugas yang secara khusus mempromosikan almarhum selama hidupnya di dunia. Tentu, promosi itu berkaitan dengan konsistennya almarhum dalam melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar. Peserta takziah harus mendapatkan ilmu dan pengalaman tentang bagaimana nikmatnya bersama Allah.

    Takziah adalah tadzkiroh. Manusia boleh tidak percaya kepada Allah. Apalagi bagi mereka yang tidak mahir dalam kegaiban. Tapi adakah manusia yang tidak yakin kepada kematian? Setiap hari ada saja peristiwa kematian. Allah memanggil mereka pulang. Di masa covid ini, frekuensi kematian terasa meningkat tajam.

    Baca juga :  Mathla’ul Anwar Sulut Peringati Nuzul Qur’an di Masjid Al-Magfirah Banjer

    Setiap peristiwa kematian adalah peringatan. Tidak hanya kepada mereka yang melupakan, tapi juga kepada mereka yang meyakini jalan pulang. Dunia adalah tempat persinggahan. Sementara saja. Tempat dimana manusia menguji kesempurnaan, dimana setiap hari adalah ujian kecerdasan dan kesadaran. Jangan kebablasan.

    Kematian adalah sebuah kepastian. Kematian adalah jalan. Kematian adalah terminal, sebelum sampai di tujuan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, kematian adalah hal biasa. Bagi muslim sejati, kematian adalah kehidupan. Tidak perlu kesedihan. Justru yang seharusnya dipromosikan adalah tentang kebahagiaan. Sebentar lagi berpindah ke surga.

    Takziah adalah satu titik menuju surga. Oleh karena itu, setan harus dijauhkan dari syariat takziah. Mereka cukup berkerumun saja, tidak sampai menjadi aktor dalam peringatan. Takziah harus menjadi bagian dari sistem jariyah: apakah menjadi anak yang soleh, apakah pengabdian dalam harta, ataukah menjadi ‘amal atas ilmu.

    Jika bukan hal di atas yang dilakukan, maka substansi takziah telah resmi bergeser menjadi upacara. Bagi orang berada (kaya), hal itu tidak menjadi masalah. Bagi orang miskin/dhu’afa, kewajiban berupacara adalah beban dan berhutang, “Sudah jatuh tertimpa tangga.”

    Sedangkan dalam syari’at, miskin dan kaya adalah ujian keimanan.
    Bersyukurlah sebagai kaya, dengan mengembalikan semua titipan kepada yang berhak menerima. Kekayaan adalah titipan dari-Nya, maka segeralah dikembalikan lagi pada-Nya.

    Sebaliknya, berbanggalah menjadi orang “miskin” karena tidak banyak yang harus dipertanggungjawabkan. Indikator miskin dan kaya adalah iman, amal, dan cara.

    Di dunia, kita harus mempersembahkan karya. 24 jam adalah kesempatan. Habil dan Qabil telah mencontohkan. Bahkan, manusia diberi pelajaran untuk konflik dan cara menguburkan. Untuk sesuatu yang terbaik, kenapa persembahannya terbalik? Iman, amal, dan cara adalah satu kesatuan. Ketiganya harus relevan/sejalan dan tidak bisa dipisahkan.

    Pada kenyataan dunia, manusia selalu perhitungan. Jika ada udang, maka tak masalah terlempar batu. Jika surga adalah tujuan, kenapa manusia tidak mampu menghitung berapa harga surga? Justru, Allah telah membeli manusia dengan surga. Namun, hanya sedikit manusia yang menyadari hakikat hidupnya.

    Hamba meyakini bahwa Almarhum adalah bagian dari yang sedikit itu. Beliau tidak hanya dikenal di titik kediaman, tapi menyebar di semesta alam. Allah yang mengizinkan. Hamba pun mengenal beliau dari kejauhan. Hamba tertarik karena ada harum dan mewangi. Hanya dua jam saja berhadap-hadapan. Tapi hamba mendapatkan rahasia kesejatian.

    Baca juga :  Begini Pergerakan Jemaah pada Puncak Haji 2017

    Di beberapa pelosok Pandeglang, nama beliau selalu disebutkan. “Ngan pa Bai doang nu rajin ka dieu mah.” Dengan tidak mengurangi hormat kepada tokoh yang lain, nama beliau begitu terkenang. Beliau begitu dirindukan. Sampai wafat menjelang, taklim bersama beliau selalu melahirkan sebuah kesan.

    Selamat jalan wahai panutan. Begitu banyak yang kehilangan. Andai hamba diizinkan untuk menjadi saksi, maka Engkau berhak mendapatkan bukti, bahwa janji Allah itu haq, bahwa Allah tidak akan lupa apa yang dikerjakan hamba-Nya di dunia, bahwa Dia akan membalas perjuangan hamba-Nya dengan kenikmatan tiada tara.

    Kematian adalah jodohnya kehidupan, sebagaimana kesedihan untuk kegembiraan. Allah telah memanggil beliau untuk pulang. Kesempatan di dunia telah berakhir. Allah pasti telah menyediakan. Oleh karena itu, tidak sedikit pun hamba merasakan sedih. Sebaliknya, hamba mengiringi kepergian itu dengan do’a dan titip salam.

    Hamba bersyukur bisa ada sedikit kesempatan untuk bertatap muka, berdiskusi, dan menerima luasnya pengetahuan yang dititipkan padanya.

    Jika hamba merasa bahagia, semoga keluarga yang ditinggalkan pun di level kebahagiaan yang sama. Mari bersama-sama kita antar beliau menuju Surga. Itulah hak beliau atas realisasi kewajibannya di dunia.

    Allah telah menciptakan. Allah telah mempercayakan. Allah menyiapkan bekal kehidupan. Allah telah menetapkan ukuran (qadar) dan skenario kehidupan. Ketika saatnya pulang, maka pulanglah dalam kedamaian. Ketika dilahirkan ke dunia secara sempurna, mari kembali kepada-Nya dalam kesempurnaan.

    Andai seorang hamba telah selesai di dunia, mari kita bantu untuk mensucikan. Makna dari memandikan adalah mensucikan. Kenapa harus “dibungkus” dengan kain putih, itulah simbol kesucian. Sebelum dikuburkan, mayyit pun dishalatkan. Maknanya, badan dan pikiran harus bersih dari kotoran, supaya jiwa mampu berkomunikasi dengan Yang Maha Suci.

    Pemakaman adalah jalan. Beliau harus diantarkan untuk bertemu Yang Maha. Asal manusia dari tanah, maka harus melebur kembali dengan tanah.

    Meskipun tidak bisa menyaksikan prosesi sampai pemakaman, hamba telah dan akan bersaksi bahwa almarhum telah menunaikan tugasnya. Dari Allah, bersama Allah, dan kembali lagi kepada Allah.

    Wallahu a’lam.

     60 total views,  3 views today

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial