Wednesday , 27 October 2021

Makna Rahmatan Lil Alamin Dalam Pandangan Usep Fathuddien

  • 09 September, 2021  09:58:04 

  • Jakarta, Mathlaonline

    Umat Nasrani secara kasat mata ada empat macam: Protestan, Katolik, Anglikan, Katolik Inggris, dan Kristen Ortodox Rusia. Ada pula kaum Adventis yang ke gerejanya hari sabtu, dan mengharamkan daging babi. Protestant sendiri memiliki puluhan bahkan ratusan macam (ordo), dan mempunyai gereja sendiri-sendiri.

    Selain itu, ada pula agama Yahudi yang dulu dikejar-kejar oleh komunitas Kristen di Jerman. Tapi dewasa ini mereka berdamai, dan beribadah di gereja masing-masing. Tidak perang, tapi juga tidak pindah agama.

    Lalu, bagaimana dengan kondisi Islam yang sampai tingkat tertentu mempunyai perbedaan, antara yang sedikit beda dan yang banyak beda? Dulu, di kampung, di Bandung Selatan, orang merasa telah berjihad ketika ikut merobohkan masjid Persis atau masjid Muhammadiyah.

    Baca juga :  Menyapa Mbah Sumarni di Bantaran Rel Kereta

    Tapi sekarang, di antara kelompok-kelompok itu damai dan hidup saling berdampingan, tanpa orang Muhamadiyah jadi NU, dan tidak juga sebaliknya. Masing-masing jalan sendiri. Tidak saling bermusuhan, tapi juga tidak harus akrab. Paling-paling
    rapat bersama di MUI.

    Tetapi, bagaimana dengan perlakuan umat terhadap Ahmadiyah, LDII, dan Syi’ah? Mereka jelas tidak diajak di MUI. Dan mereka pun belum tentu ingin masuk.Tapi, dapatkah mereka tidak dimusuhi, apalagi sampai dibakar masjidnya? Bisakah hubungan umat Islam mainstream terhadap LDII, Syiah, dan Ahmadiyah seperti sikapnya terhadap Kristen atau Katolik? Tidak dimusuhi tetapi juga tidak diperlakukan sebagai sahabat.

    Sebenarnya di kalangan pimpinan rasanya tidak ada sikap saling bermusuhan. Hanya di bawah dan kelompok umat akar-rumput yang suka bakar-bakaran. Bisakah kita berdamai, seperti umat Nasrani, yang tanpa ganti agama, tapi juga tidak lagi bermu suhan dan peperangan?

    Baca juga :  Macron, Muslim, dan Migran

    Permusuhan di kalangan umat sudah berlangsung selama ratusan tahun. Bisakah di abad XXI sekarang kita mengubah paradigma keislaman yang tidak bersahabat tapi juga tidak bermusuhan atau memusuhi mereka? Dengan begini kita bisa mengarahkan energi umat sebagai modal untuk meningkatkan pendidikan agama, pendidikan umum, dan peningkatan ekonomi umat?

    Memang selama ini belum ada. Tapi ini abad XXI atau abad XV Hijriyah. Artinya sisa abad VII kita kubur dan bersama umat manusia sedunia, kita bangun Islam yang Rahmatan “Lil ‘Alamin”

    Wallahu a’lam.

    *Usep Fathuddien merupakan Intelektual Muslim, Pendiri Paramadina, dan Tokoh Mathla’ul Anwar.

     114 total views,  3 views today

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial