Wednesday , 27 October 2021

Mensyukuri Hujan

  • 14 September, 2021  08:42:35 

  • Oleh: Almarhum KH Bai Mamun

    Tokoh Mathla’ul Anwar, Majelis Fatwa PBMA, Pengasuh Ponpes Nurul Bayan Leuweung Kolot – Menes

    ________

    Hujan merupakan anugerah yang diberikan Allah SWT bagi semua makhluk di alam semesta.

    Tetesan air yang turun dari langit menjadi sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup. Berkat kekuasaan sang Khalik, setiap saat miliaran liter air berpindah dari lautan menuju atmosfer lalu kembali lagi menuju daratan. Kehidupan pun bergantung pada daun air.

    Untuk itulah Al Qur’an mengajak manusia untuk mensyukuri hujan sebagai karunia yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya.

    Seperti tersirat dalam Al Qur’an surat Al Waqi’ah ayat 68 – 70. Sang Khaliq berfirman, “Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapa kamu tidak bersyukur.”

    Seperti kita ketahui, musim kemarau telah berlalu, berganti dengan musim penghujan.

    Suatu hal yang patut disyukuri karena Allah Ta’ala masih menurunkan rahmat-Nya kepada kita mengingat dosa – dosa anak Adam sedemikian derasnya terjadi saat ini, sehingga jika kita maum memperhatikan, hampir seluruh dosa umat – umat terdahulu dilakukan oleh umat manusia pada saat ini.

    “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit. Maka mengalirlah air di lembah – lembah menurut ukurannya. Maka arus itu membawa buih yang mengambang, dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat – alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang taka da harganya; Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan – perumpamaan.” (Ar – Rad:17)

    Baca juga :  Rakerwil dan Rakerda MA Jakarta Teguhkan Pendidikan Dakwah dan Sosial

    Dalam ayat tersebut, Allah mengumpamakan yang benar dan yang bathil dengan air dan buih atau dengan logam yang mencair dan buihnya, yang benar sama dengan air atau logam murni, yang bathil sama dengan buih air atau tahi logam yang akan lenyap dan tidak ada gunanya bagi manusia. Masih banyak lagi Allah menyatakan karunia air bagi kehidupan dunia dalam Al Qur’an.

    *Belajar dari Air*

    Seperti kita ketahui, hujan adalah air, dan air adalah sumber kehidupan. Darinya seala macam kehidupan berawal dan kepadanya segala yang hidup menggantungkan kelangsungan hidupnya.

    Jika kita ingin memiliki peranan penting dalam masyarakat sebagaimana air, coba kita renungkan apa yang membuatnya begitu berarti:

    Pertama, air yang mengalir dapat menyuburkan tanah sekitar, menumbuhkan tanaman dan menghasilkan buah; mengajarkan pada kita agar kita senantiasa berusaha memberikan manfaat, melayani masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Khairu an naas anfa’uhum li an naas.

    Kedua, bersih dan jernih adalah sifat air yang masih alami; melambangkan kejernihan hati, kejujuran dan keadilan.

    Ketiga, aliran – aliran kecil bergabung menjadi anak sungai dan akhirnya menjadi sungai besar; jika kita ingin berhasil, maka kita harus saling membantu dan bekerjasama untuk mencapai tujuan.

    Baca juga :  40 Ribu Liter Air Bersih Redam Kekeringan di Pandeglang

    Keempat, aliran air setiap waktu berubah; mengajarkan bahwa kehidupan ini harus dinamis, selalu bergerak untuk berubah menjadi lebih baik. Jika air berhenti mengalir maka akan membusuk, demikian pula manusia harus kreatif dan inovatif jika ingin tetap eksis.

    Kelima, sungai mengalir dari atas ke bawah; melambangkan kerendahan hati dan sopan santun, orang yang di atas harus mendatangi yang di bawahnya.

    Keenam, air dengan mudah melewati bebatuan. Bila bertemu kerikil ia akan mengalir di atasnya namun bila menjumpai batu besar ia lewat di sampignya; menggambarkan pribadi yang luwes, fleksibel, dan mudah meyesuaikan diri.

    Ketujuh, air mendatangkan banyak kebaikan bagi lingkungannya, tapi bila lingkungannya dirusak maka ketika hujan turun akan terjadi banjir yang menerjang segala yang dilaluinya; ada saatnya bersikap lemah lembut namun juga ada kalanya bersifat tegas.

    Kedelapan, sungai menampung sampah, kaleng bekas bahkan kotoran manusia; mengajarkan kita untuk siap menerima masukan dan kritik sekalipun menyakitkan tapi harus ditanggapi dengan tenang dan obyektif.

    Dan Kesembilan, sungai yang masih alami suaranya gemercik indah; orang yang bijak akan selalu menjaga komunikasi yang baik dengan Tuhannya dan dengan sesamanya.

    Dan juga sifat air, seperti yang diajarkan ooleh guru di tingkat sekolah dasar, salah satunya adalah menempati ruang.

    Dituangkan ke dalam wadah berbentuk apapun, air akan selalu mengikuti bentuk wadah itu. Begitulah air, ia dapat memosisikan dirinya sesuai situasi dan kondisi (sikon) yang sedang dialaminya.

    Manusia sewajarnya juga mampu untuk selalu menyesuaikan satu sama lain agar terjalin komunikasi yang saling dipahami. Selain itu, manusia mengikuti filosofi air – dituntut untuk bergerak. Bila air bergerak, maka benda – benda yang ada di hadapannya akan terbawa arus. Semakin besar debit air, maka semakin besar energy yang dapat diberikan oleh air.

    Baca juga :  BEI Gaungkan Pasar Modal Syariah.

    Di banyak tempat, potensi energy air yang besar ini dimanfaatkan untuk memutar turbin air, kemudian turbin akan memutar generator listrik untuk menjadi sumber energy. Tempat – tempat ini dikenal dengan nama Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

    Namun, saat air itu diam, maka ia tidak akan memberikan pengaruh apapun terhadap benda – benda di sekitarnya.

    Bahkan, air yang menggenang justru akan menimbulkan penyakit, menjadi tempat berkembangbiaknya jentik – jentik nyamuk.

    Setelah melewati suatu benda, biasanya air akan meningalkan basah pad benda tersebut. Hal ini berlaku untuk benda tegak (vertical), maupun mendatar. Benda yang telah dileawati air akan kering setelah beberapa saat, mulai dari hitungan detik hingga jam. Pun demikian dengan manusia, pengaruhnya dituntut untuk tetap eksis meski ia telah tiada, baikmkarena sudah berpindah tempat ataupun wafat.

    Begitu banyak yang bisa kita pelajari dari air, tak salah bila air (sungai) menjadi sifat “surge” yang disebutkan berdampingan dengannya dalam 40 ayat dalam Al Qur’an.

    Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi kita semua, sehingga kita mampu melewati musim penghujan ini dengan meraup pahala dengan “mensyukuri hujan”. Amin

     96 total views,  6 views today

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial