Saturday , 3 December 2022

Perlintasan kekerasan Agama dalam Sirkuit Politik Indonesia 2024

  • 12 October, 2022  10:39:49 

  • Oleh: Dr. H. Jihaduddin, M.Pd

    *Penulis merupakan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Mathla’ul Anwar

    Kegaduhan jagat maya dan realitas sosial kembali tersulut oleh pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang dianggap menyinggung perasaan umat akibat membandingkan azan dengan gonggongan anjing. Setelah sebelumnya mengeluarkan edaran tentang pengaturan penggunaan alat pengeras suara di masjid. Sejauh ini, meski ada yang mulai menempuh jalur hukum, kegaduhan paling besar terjadi di dunia maya.

    Kegaduhan ini memberi sinyalemen kuat, bahwa soal isu-isu keagamaan, sampai saat ini masih  memiliki sensitifitas tinggi untuk tersulut menjadi masalah sosial. Keadaan ini penting untuk menjadi catatan menjelang berlangsungnya momentum politik lima tahunan Pemilu 2024. Dalam Pemilu sebelumnya, soal-soal seperti ini bahkan menimbulkan segregasi nasional yang mencemaskan.

    Pemilu tahun 2024 nanti  adalah sirkuit. Tempat berlangsungnya adu kencang,  teknik dan skill,   keunggulan mesin dan tentu saja mental serta keberanian. Pada perlintasan mana akan menyalip lawan dan meninggalkannya di belakang untuk menjadi pemenang. Di setiap perlintasan, terbuka peluang untuk mendahului dan menyalip. Resikonya, tergelincir dan tersisih, bisa sampai hancur berkeping-keping.

    Di sirkuit ini,  Agama, hanyalah satu perlintasan penting. Perlintasan ini telah pernah menjatuhkan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dalam momentum kontestasi politik Pemilihan Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Dan nyaris pula menumbangkan Jokowi dalam Pemilu 2014 maupun Pemilu 2019 lalu. Meskipun lolos di perlintasan ini, eksesnya terhadap segregasi nasional, masih belum sepenuhnya pulih. Perlintasan agama di sirkuit politik sangat sensitif, seperti trek lurus dimana semua pembalap ingin memanfaatkannya untuk “memprovokasi” dan meninggalkan lawan.

    Meskipun bisa digunakan menjadi momentum meninggalkan lawan, sejatinya agama saat ini harus ditempatkan sebagai hanya satu perlintasan diantara perlintasan lain yang tersedia.  Di era disrupsi dan post truth, dalam 10 tahun terakhir, ada perubahan lanskap politik yang mendasar. Liberasi politik telah mengubah orientasi dan prilaku politik.

    Baca juga :  PW Mathla’ul Anwar Jabar Lantik 5 PDMA Baru

    Platform ideologi dan garis perjuangan partai politik, hanya menjadi bagian kecil untuk menentukan pilihan. Formulasi aspirasi politik, lebih banyak diwarnai oleh orientasi-orientasi pragmatis jangka pendek sebagai ciri dari proses liberasi politik. Vote oriented dan money oriented dengan membelakangkan  faktor ideologi dan aliran politik, menjadi warna utama prilaku politik Indonesia mutakhir.

    Maka tidak heran, bila dalam banyak survei elektabilitas politik saat ini , perpindahan pemilih sering berlangsung cepat dan jumlah yang belum menentukan pilihan (swing voter) terdeteksi  jauh lebih tinggi dari jumlah selisih antar kontestan.

    Sebagai contoh, survei Saiful Mujani Reasearch and Consulting (SMRC) paling terakhir misalnya seperti dikutip Kompas, dengan judul “Survei SMRC: 4 Tokoh Bersaing di Jawa Barat” menyebut  berdasarkan simulasi top of mind, Ridwan Kamil memperoleh elektabilitas sebesar 13 persen, disusul Anies (12,2 persen), Prabowo (12 persen), dan Ganjar (10,7 persen), sedangkan nama-nama lainnya di bawah 3 persen dan 43,2 responden tidak tahu atau tidak menjawab.

    Begitu pula dalam survei terhadap pilihan terhadap partai politik. Survei Indikator Politik dan Charta Politika menunjukkan pola yang hampir sama. Dalam survei yang dilakukan bulan Januari tahun ini, PDIP, Gerindra dan Golkar secara berurut adalah tiga besar. Dan besaran yang belum menjawab atau belum menentukan pilihan masih di atas 20 persen.  Suatu jumlah signifikan yang bisa mengubah pemenang Pemilu. Mengingat selisih diantara satu dengan lainnya dalam tiga besar maksimal hanya 15 persen.

    Baca juga :  UNMA-USIM Lanjutkan Kerjasama Melalui Street Dakwah

    Dalam prilaku politik pragmatis, dimana pilihan politik tidak lagi didasari atas hal-hal yang bersifat konvensional,  seperti platform ideologi partai atau aliran politik, marketing politik menjadi tumpuan utama untuk bisa menjadi pemenang dalam kontestasi. Meskipun secara teoritis marketing politik digunakan untuk membantu terjadinya efektifitas dan efiseiensi bekerjanya institusi-institusi politik sejenis partai politik, pada prakteknya,  marketing politik menjadi upaya segala cara untuk mempengaruhi pilihan politik konstituen yang dilakukan secara langsung (bertemu) atau menggunakan berbagai media.

    Pangkal persoalan terutama dalam dua kali Pemilu terakhir, strategi marketing politik memanfaatkan isu-isu agama dan masuk ke arena sensitif dengan tujuan menjatuhkan lawan. Kelompok-kelompok garis keras yang mengatasnamakan agama, menjadi garda depan yang secara langsung melakukan aksi-aksi turun ke jalan untuk memperkuat isu yang beredar melalui media sosial maupun media cetak instan. Kontestasi politik menjadi ajang perbenturan kelompok-kelompok sosial dengan latar belakang beragam. Isu dengan latar belakang keagamaan yang paling potensial memicu terjadinya konflik yang lebih besar. Lalu, apakah dalam Pemilu 2024 mendatang situasi seperti ini akan terjadi kembali?

    Redupnya Garis Keras

    Sedikitnya ada dua sinyalemen penting yang membedakan warna perlintasan agama dalam sirkuit politik 2024. Pertama, meredupnya kelompok-kelompok Islam garis keras. Pasca pembubaran organisasi-organisasi yang popular disebut  gerakan Islam garis keras seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan  Front Pembela Islam ((FPI) pimpinan Habib Rizieq Shihab (HRS), gerakan yang sering  mengatasnamakan aspirasi politik umat Islam cenderung meredup.

    Pembubaran teradap HTI pada 19 juli 2017,  dan di penghujung tahun 2020, pemerintahan Presiden Jokowi  memutuskan menghentikan dan melarang semua kegiatan FPI. Hanya riak-riak kecil dari para personil organisasi tersebut yang muncul dan  tidak memiliki pengaruh signifikan.

    Baca juga :  Pengurus IPMA dan Pramuka Perguruan MA Baros Resmi Dilantik

    Meredupnya gerakan politik garis keras berbasis keagamaan dengan sendirinya akan berpengaruh pad acara-cara pemanfaatan isu keagamaan dalam marketing politik yang dimainkan kontestan. Aksi politik dengan pengerahan massa dalam jumlah besar sebagai bagian dari pembenaran atas isu tertentu, besar kemungkinan tidak akan terjadi. Betapapun figur tertentu masih memungkinkan untuk bisa memiliki pengaruh besar, tetapi ketiadaan organisasi semacam FPI yang memiliki simpatisan besar perkotaan, akan sulit menjadi gerakan politik eksponensial.

    Kedua, menguatnya gerakan politik moderat santri yang dikibarkan dengan pendekatan budaya.  Fachry Ali dalam kompas (12, Feb 2022), membuat tulisan mengenai masuknya kalangan muda (dibahasakan adanya pembeliaan) dalam struktur baru kepengurusan NU membembentuk “Sejarah Publik” bagi kalangan santri (NU) untuk mengisi ranah arena politik dalam cakupan yang luas. Sejarah Publik kalangan Nahdliyin di berbagai arena strategis, memberikan warna yang lebih lunak dalam memandang isu-isu keagamaan. Corak keagamaan santri yang digawangi oleh organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dengan pendekatan-pendekatan keIndonesiaan, sejauh ini mampu menjadi penawar atas sikap-sikap keras yang ditunjukkan oleh kelompok keagamaan lain.

    Dengan dua perubahan tersebut, maka perlintasan agama  di Pemilu 2024 tentu akan berbeda. Agama tidak akan mudah untuk mendapatkan ruang yang berisikan  kepentingan politik pragmatis berjangka pendek.

    Namun begitu, ruang permukaan sosial di era disrupsi dan post truth, keterbatasan kemampuan dan kemauan melakukan verifikasi informasi pada massa bawah, dapat melahirkan kontestasi politik yang gamang dan sensitif menjadi sumber polarisasi sosial. Agama sebagai tatanan nilai dan sandaran moral, termasuk moral politik, lantas saja bisa menjadi alat politik untuk menarik simpati.

     103 total views,  4 views today

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial