Friday , 2 December 2022

Langit Suci Gen Z

  • 14 October, 2022  08:28:47 

  • Oleh: Dr. H. Jihaduddin, M.Pd

    *Penulis merupakan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Mathla’ul Anwar

    Bagi remaja yang saat ini berusia 11-20 (10-19) tahun, dapat dipastikan  hidup yang dikenali adalah perjalanan mengikuti  pertukaran informasi tanpa batasan ruang dan waktu.  Dalam fase usia yang lebih tren disebut sebagai generasi Z (GenZ) ini,  pertukaran  informasi yang dapat diterima adalah yang memiliki dasar logika dengan sumber-sumber yang masuk dalam keterjangkauan oleh pengetahuan. Informasi yang tidak memiliki dasar logika, referensi dan sumber pengetahuan ilmiah yang bisa diterjemahkan oleh manusia, akan dianggap sampah dan segera berpindah tempat ke pembuangan.

    Sebuah studi di Indonesia yang dikerjakan oleh Kementerian Kominfo bekerjasama dengan UNICEF, menyebutkan 98 % remaja di Indonesia terhubung dengan jaringan internet. Ada tiga motif utama pemanfaatan internet, Pertama informasi (pengetahuan) dan kepentingan pelajaran sekolah, Kedua untuk kepentingan hiburan (leisure). Ketiga untuk kepentingan terhubung dengan teman. Prinsip dasar keterhubungan dalam media digital ini, tentu saja adalah logis dan konfirmasi.

    Di Indonesia,  mengutip  pernyataan Biro Pusat Statistik (BPS) tahun lalu, GenZ menempati jumlah populasi terbesar dari total penduduk Indonesia. Jumlahnya menurut BPS mencapai 27,94 persen dari total penduduk atau sekitar 75 juta orang.  Sebuah jumlah sangat signifikan dan akan sangat berpengaruh untuk Indonesia dalam 10 – 15 tahun yang akan datang. Dapat dipastikan karakteristik sosial Indonesia dalam 10-15 tahun ke depan akan sangat dipengaruhi oleh sikap dan prilaku GenZ saat ini.

    Oleh karena agama bagi kultur Indonesia menempati posisi penting dalam melihat konteks keagamaan, apakah informasi tentang agama adalah bagian dalam sistem pertukaran informasi seperti itu? Atau agama tetap mengandalkan pada sistem informasi yang sebagian besar sumbernya dianggap valid karena faktor keyakinan seseorang? Ini adalah momentum reformulasi sistem informasi keagamaan. Formulasi dimaksud, bisa jadi akan menggeser cara menterjemahkan teks agama menjadi informasi yang memenuhi ruang logika generasi yang pada waktunya akan menempati seluruh rongga kehidupan dunia.

    Dampak Pandemi

    Dengan adanya pandemi virus Covid-19, kuat dugaan, agama akan mengalami tantangan eksistensial yang berat di kalangan gen Z. Ajaran agama yang bersumberkan wahyu yang tidak dimengerti secara akal sulit untuk diterima. Dalam bahasa mereka “nggak masuk akal autoblocked itu nyata. Mereka menerima informasi lantas kemudian berusaha mencerna melaui konfirmasi-konfirmasi yang sumber-sumbernya bisa terjelaskan secara logis dan terbuka melalui media-media yang tersedia. Karena karakter dasar Gen Z sangat terbuka dan kritis terhadap setiap persoalan, termasuk diantaranya soal berkeyakinan.

    Baca juga :  Amankan dan Produktifkan Aset Wakaf, Badan Wakaf Indonesia Gelar Rapat Koordinasi Nasional

    Pandemi menyisakan pertanyaan fundamen dalam ranah keagamaan. Khususnya soal keterlibatan Tuhan dalam bentangan nasib umat manusia di dunia. Pandemi adalah kehendak Tuhan seperti banyak diintrodusir tokoh agama. Pandemi tidak akan berhenti bila Tuhan belum menginginkan untuk berhenti. Pandemi adalah cara Tuhan membuat peringatan di muka bumi. Dan masih banyak narasi keagamaan lain yang didesakkan ke ruang publik,  yang sejatinya bersumberkan dari cara memahami bahasa agama secara tekstual.

    Narasi seperti ini  mungkin bisa diterima bagi generasi pendahulunya yang tidak banyak terhubung dengan ruang media komunikasi terbuka.  Tetapi bagi GenZ yang selalu berada dalam ruang terbuka dalam menggali informasi, sesungguhnya narasi ini tidak bisa dicerna, Tuhan tidak masuk dalam ruang kehidupan rigid manusia dalam pengertian praktis.  Ruang ilmu pengetahuan moderen dengan varian informasinya, lebih dapat diterima karena memiliki sumber yang terkonfirmasi.

    GenZ membutuhkan penjelasan  bagaimana membuktikan bahwa Pandemi adalah  “kehendak langit”, sementara di belahan bumi lain para ilmuan berlomba menemukan vaksin agar bisa melawannya. Dengan banyaknya korban yang meninggal, juga meninggalkan jejak tanda tanya besar,  seolah “kehendak langit” menjadi tidak steril dari perbuatan yang melibatkan angkara murka berbasiskan nafsu. Padahal nafsu itu bukan sifat langit. Nafsu milik  makhluk yang diciptakan.  Sementara pada bagian lain ilmu pengetahuan dengan gamblang menjelaskan sebab-musabab terjadinya berbagai malapetaka di planet bumi ini tanpa mengotori singgasana langit.

    Firman (wahyu) tidak bisa taken for granted sebagai sumber sandaran informasi valid bagi generasi yang senantiasa membutuhkan konfirmasi. Mendesakkan informasi tanpa ada sumber referensi logis, tidak akan memiliki pengaruh signifikan pada pembentukan sikap dan keyakinan.

    Belum lagi, pola pengajaran agama dogmatis di rumah dan di lembaga belajar lain, jauh dari metode belajar dialogis. Dalam wilayah praktis, ajaran agama tetap disampaikan orang tua atau tokoh agama, tidak dalam suasana ruang pertukaran dialektis. Ajaran agama diperintahkan untuk dilaksanakan tidak ada tawar-menawar.

    Baca juga :  Ponpes Mathla'ul Anwar Al-Bantani Siap Terima Santri yang Tidak Mampu

    Sementara di ruang lain, bagi Gen Z, dengan berbagai informasi yang sangat trerbuka di media informasi, agama tidak menempati posisi yang sama dengan ruang batin orang tuanya atau tokoh agamanya. Ketiadaan agama dalam ruang bathin seseorang bagi generasi Z bukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Mereka lebih takut luar biasa berada dalam ruang yang tidak ada akses internet dan akses sumber energi yang bisa digunakan untuk senantiasa tersambung dengan dunia luar.

    Kekhawatiran hanya ada pada generasi sebelumnya, dalam wilayah praktis, kekhawatiran itu akan menghinggapi orang-orang tua generasi Z dan bukan pada generasi Z nya sendiri. Dalam teori psikologi remaja, seorang di usia remaja, dia akan sangat membutuhkan seseorang yang secara riil berada di dekatnya, dan bisa diberikan kepercayaan sepenuhnya untuk berbagi termasuk saling memberi kepercayaan atas perkembangan yang terjadi pada dirinya.

    Dia bisa jadi akan lebih membutuhkan teman dari pada orang tuanya sekalipun. Dalam soal berkeyakinan, tentu saja periode remaga, juga periode dimana dia mulai berpikir atas hal-hal yang baru, termasuk mulai mencari-cari sumber-sumber yang bisa menguatkan kepercayaan dirinya, tetapi lagi-lagi ada prasyarat yang bisa masuk ruang logika yang bisa dimengertinya.

    Artinya, sumber-sumber spiritual sebagai pengisi ruang bathin generai Z akan berisi informasi dan pengetahuan yang mengacu pada dasar logika informasi logis dan terjangkau pengetahuan. Begitupun juga sumber nilai moral. Acuan moral segera akan berada dalam posisi yang sama antara yang terjadi belahan bumi A dengan yang menjadi acuan di belahan bumi B akibat ketiadaan batasan ruang dan waktu. Sesuatu yang boleh di Amerika akan menjadi sesuatu yang pasti dituntut untuk dibolehkan oleh generasi Z. Dalam ruang gadget mereka, kehidupan sejatinya akan berlangsung sama dimanapun.

    Apa yang akan terjadi bila informasi keagamaan tidak segera dilakukan kontekstualisasi atau reformulasi? Maka informasi keagamaan akan dianggap sebagai informasi sejarah berkeyakinan manusia belaka. Atau teks-teks keagamaan akan dianggap bukan bagian dari kehidupan dirinya. Dalam beberapa kali diskusi dengan anak-anak, mereka sering kali melontarkan ungkapan bahwa kita mungkin berbeda dalam keyakinan. “Itukan keyakinan kamu, bukan keyakinan saya. Bisa saja Tuhan saya berbeda,”. Ini adalah narasi yang nyata dan melekat pada anak-anak generasi Z.

    Baca juga :  HIMBAUAN MAJELIS FATWA MATHLA'UL ANWAR

    Menjaga Kesucian Langit Gen Z

    Pertanyaan dasar yang langsung menohok ketika kita bicara tentang agama dan Tuhan dengan generasi Z, kenapa harus ada agama, apakah Tuhan terkoneksi dengan jaringan internet dan sejenisnya? Kenapa Dia ada dimana-mana? Apakah dia berada di saluran besar semacam backbone dalam sistem informasi?

    Sudah barang tentu pertanyaan-pertanyaan tersebut bagian dari hasil interaksi mereka sehari-hari dengan dunianya. Dunia yang hadir sangat dekat dan lekat. Semua informasi berada dalam genggaman mereka dan mereka terjemahkan sendiri atas dasar kemampuan menyerap informasi. Informasi tersebut tentu saja membentuk pengetahuan mereka, termasuk diantaranya membentuk pola berkeyakinan. Tentu saja dalam beberapa hal, akan terkoneksi dengan sumber informasi lain yang mereka dapatkan di sekolah atau tempat lain.

    Dalam ruang pengetahuan dan ruang bathin yang didasari oleh prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan logika itu sejatinya agama harus terformulasi. Jika saat ini, masih terdapat banyak informasi keagamaan atau ajaran agama yang tidak terformulasi dengan menyandarkan pada prinsip-prinsip logis ilmu pengetahuan, kitab suci tidak mendapatkan tafsir kontekstual atas perkembangan jaman dan ilmu pengetahuan, maka tidak akan bisa menjadi sumber acuan bagi kalangan generasi Z.

    Tuhan dengan segala kemahakuasaannya, sesungguhnya adalah dzat yang bisa terjelaskan menggunakan kaidah ilmu pengetahuan dan filsafat. Setidaknya, menjelaskan kaidah-kaidah agama tidak bisa melulu dengan pendekatan dogma yang sama sekali tidak menjawab hasrat ingin tahu kalangan remaja. Bila agama bisa terjelaskan secara logis, melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan filsafat, cakrawala bathin generasi Z akan sangat kaya dengan atmosfir pengetahuan yang sangat luas,

    Dan dalam keadaan seperti itu, tidak ada kekhawatiran sama sekali, bahwa mereka akan melewati batas-batas yang mampu dipikirkan oleh seorang manusia. Bukankah Tuhan adalah sumber pengetahuan yang tak terhingga sehingga semakin dikuak misterinya akan semakin melimpah ilmu pengetahuan yang bisa didapatkan manusia? Hal ini akan sama artinya dengan semakin mengukuhkan dzat keilahian bukan malah akan mengurangi kemahakuasanya Tuhan. Dengan semakin terbukanya pikiran-pikiran keagamaan dari generasi Z, justru semakin akan mengukuhkan penguasa langit yang maha suci.

     82 total views,  4 views today

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial